Klaten, 12 September 2026 – Suara gemuruh mesin tak berirama terdengar dari sebuah bengkel kecil disudut dusun Cawas, Cawas, Klaten Kadang terdengar cepat menderu, kadang pula melambat. Putut Harwanto (35) si pemilik bengkel rupanya sedang mencoba alat baru hasil kreaasinya. Alat mesin tanam padi. Sebuah tantangan diberikan padanya saat mengikuti kegiatan kemah pemuda tani yang diselenggarakan oleh Koperasi Tani Pangan Lestari bersama Rikolto beberapa waktu yang lalu.
Beberapa putra putri petani dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Selain untuk memberikan gambaran terkait dinamika disektor pertanian yang notabene adalah kehidupan orang tuanya juga untuk menggali potensi dari para pemuda ini yang bisa dikembangkan terkait dengan pertanian.
Menggaet anak muda untuk terjun ke lahan pertanian bukanlah pekerjaan mudah. Bukanya tak beralasan anak muda tidak tertarik menggeluti pertanian. Melihat kondisi saat ini sektor, petani bukanlah profesi yang menjanjikan. Petani dianggap profesi tanpa skill dan berkubang dalam lumpur sawah. Sarjana pertanian yang bejibun nyaris tak ada minat menjadi petani. Mereka lebih rela mengantri menjadi buruh pabrik pestisida, kantoran diperusahaan pertanian atau menjadi PNS Departemen Pertanian.
Selain itu petani dianggap profesi kuno, yang lemot teknologi, terlebih didaerah yang minim akses infrastruktur. Kecenderungan anak muda yang selalu up date terhadap teknologi, tentu membuat mereka semakin menjauh dari sektor pertanian. Dua alasan ini saja sudah cukup bagi generasi muda untuk menggeleng jika ada panggilan datang dari lahan pertanian. Belum lagi masalah harga hasil panen yang tak stabil dan cenderung rendah jika panen raya, ketergantungan terhadap iklim dan lain sebagainya. Tak heran jika survey BPS menegaskan bahwa usia petani rata-rata diatas 50 tahun lebih dari 70 %.
Berangkat dari kondisi tersebut, memberi tantangan kepada seorang Putut Hariwanto, agar berempati terhadap nasib orang tuanya dan para petani lainya menjadi terobosan yang layak dicoba. Pemuda 35 taun ini, membuka bengkel mesin, dengan peralatan sederhana hasil dari mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh DISNAKER kabupaten Klaten. Dengan potensi teknisi yang dimiliki meracik alat tanam bukanlah hal sulit baginya. Kelangkaan tenaga tanam belakangan ini, mesin alat tanam diharapkan menjadi solusi.
Mesin alat tanam buatan Putut disesuaikan dengan kondisi lahan yang diiwilayah Klaten bagian selatan, daerah operasiinal dari KTPL yang cenderung banyak air jika musim tanam tiba. Memang alat tanam padi ini , masih dalam tahap penyempurnaan. Dari beberapa kali uji coba masih ada yang perlu diperbaiki. Alat ini diselaraskan dengan program budidaya dari Ktpl dan rikolto yaitu jarwo 2:1 sisip. Dari hasil ujicoba untuk satu lahan sawah luasan 1.500 meter persegi dengan mesin tanam ini memerlukan waktu sekitar 2 jam. Menghabiskan sekitar 1,5 liter bahan bakar bensin.
Jika menggunakan tenaga tanam manual sebanyak 6 orang rata-rata 1 petak sekitar 3 jam. Dari perbandingan tersebut mesin tanam ini lebih efesien secara waktu, tenaga dan biaya.
Memang yang dilakukan oleh Putut ini bukanlah hal yang luar biasa, hanya membuat mesin tanam untuk sedikit berkontribusi untuk para petani. Tidak sefenomenal berita-berita di media sosial tentang sosok anak-anak muda yang berjaya dengan bertani. Ada sukses story petani muda berhidroponik, pembudidaya buah-buahan dan lain sebagainya.
Putut hariwanto hanya mengisi ruang senyap yang bisa dimasuki untuk sekedar berbuat bagi orang tuanya dan petani-petani marjinal lainya.
Dan anak muda ini tak henti berkreasi selepas mesin tanam, DNA petani yang mulai tumbuh dalam jiwanya mulai bekerja. Alhasil mesin giling kompos, mesin pencacah hijauan, mesin cetak karak beras, adalah bukti dari “Berbakti pada orang tua dan berbagi pada petani”

Kegiatan Uji Coba Mesin Tanam di Lahan

