Evaluasi Sekolah Lapang SRP Dorong Penerapan Budidaya Padi Berkelanjutan di Desa Ngaren

Klaten, 24 September 2026 — Kegiatan evaluasi pelaksanaan Sekolah Lapang berbasis Sustainable Rice Platform (SRP) dilaksanakan di Desa Ngaren sebagai bagian dari upaya meninjau hasil kegiatan sekaligus merumuskan tindak lanjut untuk musim tanam berikutnya. Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional tersebut dihadiri oleh kelompok tani, pihak Koperasi Tani Pangan Lestari (KTPL), Penyuluh Pertanina Lapangan (PPL), serta mahasiswa tim Hibak JARPAK Universitas Sebelas Maret.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari perwakilan kelompok tani dan koperasi. Evaluasi dilakukan untuk membahas hasil pelaksanaan Sekolah Lapang yang berlangsung sejak akhir Maret hingga sekitar Juni, termasuk proses kegiatan dan beberapa tahapan yang masih perlu diperbaiki. Pelaksanaan Sekolah Lapang di Desa Ngaren mengalami penyesuaian karena keterlambatan waktu, sehingga beberapa tahapan SRP, seperti pengolahan lahan dan seleksi benih belum dapat dilaksanakan secara penuh.

Salah satu pembahasan utama berkaitan dengan pengolahan tanah, seleksi benih, dan pengelolaan bahan organik. Pengolahan tanah yang baik dinilai penting untuk menciptakan kondisi lahan yang mendukung proses tanam serta mempermudah pengaturan air. Sementara itu, seleksi benih tetap perlu dilakukan meskipun benih diperoleh dari toko pertanian karena kondisi dan kualitas benih dapat berbeda. Pengelolaan jerami juga menjadi perhatian melalui pemanfaatan dekomposer dan pengomposan agar bahan organik dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara bagi tanah.

Evaluasi juga membahas penerapan sistem tanam Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 sebagai salah satu inovasi yang diperkenalkan melalui Sekolah Lapang. Sistem tersebut memberikan ruang tumbuh yang lebih luas bagi tanaman sehingga cahaya matahari dan sirkulasi udara dapat masuk lebih optimal. Penerapannya secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan hingga pemeliharaan, diharapkan dapat meningkatkan populasi tanaman serta mendukung peningkatan hasil produksi.

Selain penerapan sistem tanam, prinsip SRP juga menekankan pengurangan penggunaan input kimia melalui pemanfaatan bahan organik. Penggunaan pestisida juga perlu dilakukan secara bijak berdasarkan hasil pengamatan terhadap kondisi tanaman dan keberadaan hama atau penyakit. Pengelolaan jerami menjadi bagian penting karena pembakaran jerami perlu dihindari dan bahan tersebut dapat dimanfaatkan melalui proses pengomposan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Hasil pelaksanaan budidaya menunjukkan kondisi yang cukup baik meskipun beberapa tahapan mengalami keterlambatan. Pengamatan di lapangan menemukan adanya beberapa gangguan, seperti wereng dan penggerek batang, serta kendala berupa limbah rumah tangga yang masuk ke lahan. Penambahan bahan organik dan kompos menjadi salah satu upaya perbaikan kondisi tanah dan tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan produksi sekitar 7,5 ton per hektare.

Kepala Desa Ngaren turut menyampaikan apresiasi kepada tim SRP, PPL, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan sosialisasi dan demplot padi Jajar Legowo 2:1. Petani diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh, terutama terkait pemilihan benih, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan tanah, serta pemanfaatan teknologi pertanian.

Keberlanjutan program juga diarahkan melalui penguatan kemitraan antara petani, SRP, KTPL, dan pemerintah desa. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya mencakup kegiatan Sekolah Lapang, tetapi juga pengembangan kapasitas sumber daya manusia, panen dan pascapanen, serta pengembangan pupuk organik.

Melalui evaluasi ini, kegiatan Sekolah Lapang diharapkan tidak berhenti pada tahap sosialisasi dan praktik, tetapi berlanjut pada penerapan nyata di lahan. Pengembangan pupuk organik, penggunaan dekomposer, penerapan Jajar Legowo 21 Sisip, pengelolaan budidaya padi, serta peningkatan kapasitas petani menjadi bagian dari tindak lanjut untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan di Desa Ngaren.