Klaten, 1 Oktober 2026 — Kegiatan Sekolah Lapang ketiga berbasis Sustainable Rice Platform (SRP) dilaksanakan di lahan demplot SRP Desa Tawangrejo, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Kegiatan ini diisi dengan pengamatan kondisi tanaman di lahan dan pemberian materi penyuluhan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Pada tahap pengamatan, peserta meninjau langsung kondisi tanaman padi di demplot yang saat ini masih berada pada fase vegetatif. Pengamatan dilakukan untuk melihat perkembangan tanaman, sekaligus menjadi bahan belajar bagi petani dalam menilai kondisi pertanaman di lahannya sendiri.
Dalam penyampaian materi, PPL menjelaskan dua tantangan pertanian Indonesia saat ini, yaitu degradasi lahan dan regenerasi petani. Degradasi lahan berkaitan dengan menurunnya kualitas lahan yang dapat memengaruhi produktivitas, sedangkan regenerasi petani berkaitan dengan semakin sedikitnya generasi muda yang menekuni usaha tani.

PPL juga memaparkan konsep SRP sebagai upaya menjawab tantangan tersebut. SRP menekankan budidaya tanaman yang ramah lingkungan, pemupukan yang berimbang, serta efisiensi penggunaan bahan kimia melalui prinsip 6 tepat. Dengan cara ini, petani diharapkan dapat menjaga kualitas lahan sekaligus mengelola biaya produksi secara lebih bijak.
Dalam kesempatan tersebut, PPL menyampaikan pesan kepada para petani agar tidak menunda penerapan praktik budidaya yang lebih baik. “Menunda perubahan artinya memperbesar biaya adaptasi dan mempersempit pilihan petani,” ungkap PPL.
Melalui Sekolah Lapang ketiga ini, petani diharapkan semakin memahami penerapan prinsip SRP, tidak hanya dari materi, tetapi juga dari pengamatan langsung di lahan demplot. Kegiatan ini diharapkan mendorong petani untuk mulai menerapkan budidaya yang berkelanjutan pada lahan masing-masing.

