Sekolah Lapang Kedua SRP Tawangrejo Fokus pada Pengamatan Pertumbuhan dan Kebutuhan Nutrisi Tanaman

Klaten, 17 September 2026 — Rangkaian Sekolah Lapang (SL) Demplot Budidaya Beras Berkelanjutan SRP bersama anggota Gapoktan Mulya Makmur, Desa Tawangrejo, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, kembali dilaksanakan pada Kamis (17/9/2026). Memasuki pertemuan kedua, kegiatan difokuskan pada pengamatan kondisi pertanaman serta pembelajaran mengenai fase pertumbuhan vegetatif dan kebutuhan nutrisi tanaman padi.

Pengamatan dilakukan pada kotak pengamatan yang telah ditentukan untuk memperoleh gambaran kondisi tanaman secara lebih terukur. Tanaman padi yang diamati telah memasuki umur 29 hari setelah tanam. Hasil pengamatan menunjukkan terdapat 146 rumpun tanaman dengan tinggi sekitar 45 cm dan jumlah daun sekitar 25 helai.

Selain mengamati pertumbuhan tanaman, peserta juga mengidentifikasi keberadaan organisme di lahan. Hama yang ditemukan antara lain walang sangit dan walang ijo, sedangkan jenis gulma yang dijumpai yaitu bayeman dan teki. Peserta juga menemukan kumbang koksi yang menjadi salah satu musuh alami di lahan. Pengukuran warna daun dilakukan menggunakan Leaf Color Chart (LCC) dan menunjukkan level 3.

Kegiatan juga dilengkapi dengan penggunaan alat sederhana untuk mengukur kedalaman air di lahan. Alat tersebut berupa pipa berukuran 30 cm yang digunakan untuk membantu mengetahui kapasitas maksimum air hingga kedalaman 5 cm. Pengamatan kondisi air menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan pertanaman agar kebutuhan tanaman dapat disesuaikan dengan kondisi lahan.

Pada sesi pembelajaran, peserta mendapatkan materi mengenai fase pertumbuhan vegetatif tanaman serta kebutuhan nutrisi selama pertumbuhan. Pembahasan juga mencakup pemupukan dan pemeliharaan tanaman yang dilakukan di demplot, antara lain penggunaan pupuk NPK Phonska sebanyak 40 kg dan urea sebanyak 10 kg. Pengendalian gulma dilakukan menggunakan herbisida Serende, sedangkan tindakan pemeliharaan lainnya berupa penyemprotan pupuk organik cair (POC) sebanyak 500 ml.

Ibu penyuluh menyampaikan bahwa keberhasilan produksi tanaman dipengaruhi oleh empat faktor utama yang dikenal dengan prinsip “wiji, siti, wanci, pangrupti”. Wiji berkaitan dengan benih, siti dengan kondisi tanah, wanci dengan ketepatan waktu, sedangkan pangrupti berkaitan dengan pemeliharaan tanaman.

Melalui Sekolah Lapang kedua ini, anggota Gapoktan Mulya Makmur tidak hanya melakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman, tetapi juga belajar menghubungkan hasil pengamatan dengan kebutuhan dan tindakan pemeliharaan di lapangan. Data yang diperoleh dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan tanaman pada tahap pertumbuhan berikutnya.

Rangkaian Sekolah Lapang akan terus dilaksanakan secara bertahap sebagai bagian dari kegiatan Demplot Budidaya Beras Berkelanjutan SRP. Pengamatan rutin dan pembelajaran langsung di lahan diharapkan dapat membantu petani meningkatkan kemampuan dalam memahami kondisi pertanaman serta menentukan tindakan pemeliharaan yang sesuai.